Sabtu, 21 Agustus 2010

Bacaan: 1 KORINTUS 2:1-10 Kotbah: PSALM 44:1-9

1. Ketika Rasul Paulus datang ketengahtengah orang Korintus, ia datang untuk menyampaikan kesaksian Allah sendiri. Allah yang bekerja pada salib, itulah yang diberitakannya dengan segala kesaksian dan maknanya justru di dalam kelemahannya. Dia datang bukan dengan katakata yang indah atau hikmat yang dapat menarik pendengarnya, bukan seorang yang ahli berpidato dan terkenal, bukan dengan katakata yang berapiapi dan bukan dengan argumentasi yang rasional. Tetapi dengan segala kelemahannyalah orang dapat melihat kebebesaran Allah dari beritanya, sebab Paulus sendiri benarbenar mengecilkan dirinya. Dalam pemberitaannya dia mengatakan bahwa Yesus adalah Kristus justru karena Dia adalah yang disalibkan (disinilah Injil itu sulit dipahami oleh dunia – 1:18-25). Paulus tidak mengatur pesannya agar sesuai dengan pertanyaan-pertanyaan ataupun gagasan-gagasan keagamaan secara rasional.

2. Dalam perkembangan dan dalam usaha penyebaran Injil berikutnya, ternyata kelemahan Paulus nyata benar menjadi kekuatan. Tidak seorangpun dikemudian hari mengatakan tertarik menjadi Kristen adalah karena Paulus dengan segala retorikanya. Justru yang dia hadapi adalah cacian, fitnah dan perlawanan. Kuncinya adalah: karena pemberitaannya mengagungkan kuasa Allah (bukan penonjolan pribadinya dengan kehebatan dan kekuatan dirinya). Hal ini adalah merupakan suatu pembuktian akan kekuatan Roh yang bekerja dalam menciptakan iman (bukan menciptakan sympati). Roh Kudus tidaklah tergantung tekhnik-tekhnik manusia ataupun kepandaian manusia berbicara. Injil tidak membutuhkan hiasan manusia ataupun sistem-sistem pendukung. Perkataan yang lahir dari Roh Kudus adalah yang membawa orang kepada Kristus, bukan kepada diri sipembicara; demikian juga halnya orang yang dipenuhi oleh Roh Kudus datang kepada Yesus, bukan kepada manusia (bnd 1 Tes 1:5; Rom 15:19; 1 Kor.4:20). Dengan tegas Paulus mengatakan: agar iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia (ayt.5), apakah itu pemikiran si pengkhotbah ataupun sipendengar yang samasama bisa keliru.

3. Dalam pemberitaannya Paulus mengatakan bahwa tindakan Allah yang terjadi pada salib itu jelas adalah hikmat Allah. Peristiwa yang dilakukan Allah ini hanya dapat diterima dalam iman, dan iman ini bertumbuh terus kearah kepenuhan sampai kedatangan Kristus yang keduakalinya (Ep 4:13; Flp 3:12-15; Kol 1:28; 4:12). Oleh karena itu bagi Paulus: orang yang matang (beriman) adalah orang yang masih bertumbuh terus (seperti bayi), bukanlah orang yang menyatakan dirinya sudah sempurna, sudah pas sehingga menganggap orang lain masih jauh dibawahnya (imannya dan perbuatannya); Atau sebaliknya pemikiran ini mengatakan: orang yang menganggap dirinya sudah sempurna (seperti di atas) sehingga mengklaim orang lain dibawahnya dan menghakimi orang lain, itulah sebenarnya orang yang belum percaya (tidak beriman). Semuanya ini adalah sesuatu peristiwa dan pernyataan yang bertentangan dengan pemikiran dunia dan segala penguasanya. Seandainya hal itu dapat diterima oleh dunia tentu dunia tidak akan menyalibkan Dia, melainkan menerima kebenaranNya ditengahtengah seluruh proses kehidupannya.

4. Dari kerangka berpikir di atas, memberikan perenungan ke dalam kehidupan kita:
• Salib adalah merupakan kekuatan Allah dalam jalan keselamatan kepada manusia yang tidak terjangkau dunia ini. Kalaupun dunia mengatakan itu adalah kelemahan dan kebodohan Allah tetapi justru itulah kekuatan Allah. Dunia mengatakan itu adalah kebodohan karena dunia memaksakan rasionalitasnya untuk mendengar dan menerima Yesus agar percaya kepada Yesus.
• Mengikut Yesus dan percaya padaNya bukanlah bergantung kepada hikmat manusia. Tetapi menerima apa yang dinyatakan Allah itu di atas dari segalanya.
• Kesempurnaan atau kematangan iman kita adalah dalam pengenalan akan kelemahan kita dihadapan Allah. Sebaliknya di dalam perasaan kita sempurna tanpa kelemahan disitulah sebenarnya kita belum percaya.

Tuhan memberkati